2 April 2013

Siksaan Jarak

satu purnama sudah
kita terpisah satu sama lain
merenda kehidupannya masing-masing
menyemai sepi setiap malam

ketika angin malam menggigilkan kerinduan
aku tak lagi mengerti
aku tak lagi ada disampingmu
tak bisa memelukmu hangat
tak bisa lagi menyelimuti hatimu

jarak yang sejauh ini antara kau dan aku
apa ada yang menyenangkan dibalik ini semua?
aku tak bisa menuntun tanganmu saat kau berjalan seorang diri
aku tak bisa berada disimu, melindungimu setiap waktu
aku tak bisa lagi menghapus air matamu saat kau menangis

kini,
aku hanya bisa berharap pada perasaan ini
yang akan membuatku selalu ada di sekelilingmu, meski tak nyata
sambil membayangkan lekukan indah wajahmu dalam foto
dan terus mencoba menyebut namamu dalam setiap doaku
mengharap kau bertahan dalam siksaan jarak ini
sampai waktu mempertemukan kita kembali

bertahanlah, 
sejauh apapun jarak memisahkan
selama kita masih dalam perasaan dan kepercayaan yang sama, 
jarak hanya akan menjadi sebuah ilusi

Baca Selanjutnya...

11 Maret 2013

Sampai Jumpa Sahabat

coba bayangkan,
bayangkan saat pertama kali kita bertemu dan berkenalan
seperti mentari yang menghangatkan embun
seperti hujan yang membasahi tanah kemarau
seperti pelangi yang muncul setelah badai 
seperti bulan yang menyinari gelapnya malam
sungguh bahagia bisa bertemu denganmu
sungguh bahagia memiliki kesempatan mengenalmu
menjalin kisah persahabatan ilahi
meski kesempatan ini hanya berjalan singkat
namun cintaku padamu tak pernah menjadi kecil
kamu sudah seperti saudaraku 
kehadiranmu berarti besar untuk perjalananku disini

kamu bisa membuatku tertawa
bisa mengeringkan air mataku 
kamu selalu mendengarkan
tahu apa yang harus dikatakan
tahu kapan untuk memberikan pelukan
ketika aku mengalami hari yang buruk
kehadiranmu membuatku mengerti arti kehidupanku
kita juga tumbuh belajar bersama
menjalani kisah kehidupan kita bersama
itulah mengapa aku tetap kuat selama ini
ini semua karena kamu

sekarang aku sudah tiba 
di akhir perjalanan menuju gelar apoteker
tanda bahwa perpisahan sudah seharusnya dipersiapkan
perpisahan pada pertemuan yang terlalu singkat

sekarang aku sedang berdiri di tepi jurang perpisahan
jangan tanya mengapa aku sedih
jangan tanya kenapa mataku meneteskan kedukaan
jangan tanya kenapa aku menyendiri di sini
aku hanya sedang merenungkan perkataan orang bijak,
"jangan bersedih karena perpisahan tapi tersenyumlah karena pertemuan itu pernah terjadi"

dalam renungan ini, aku menulis,

hidup adalah lalu lintas dari kehadiran dan kehilangan
hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang harus aku lewati
menapak, melangkah dan melintasi batas usiaku
putaran waktu mengantarkanku dalam nyata
lihat dan rasakan pahit manis kehidupan
aku harus melangkah terus kedepan
jalan ini masih sangat panjang
kamu pun harus demikian


aku yakin kamu pasti bisa melewatinya
aku hanya ingin kau tahu dan tidak pernah lupa
bahwa aku pasti akan merindukanmu
merindukan saat kita tertawa dan menangis bersama 

jangan menangis karena ini berakhir
tersenyumlah karena ini terjadi

aku, kamu, kita semua tahu
ini 
bagian tersulit dari setiap persahabatan
ketika tiba untuk mengucapkan selamat tinggal
aku tidak pernah berpikir aku dapat melakukannya 
terutama untukmu
meskipun aku berharap
sangat berharap aku bisa membuatmu tinggal
tinggal lebih lama menghabiskan waktu bersama

namun inilah saatnya
aku harus mengijinkanmu
kepakkan sayapmu
terbang tinggi


ikuti kata hatimu
jangan pernah menyerah, 
karena hidup tak akan pernah mudah
jangan menyerah,
wujudkan mimpi-mimpimu yang belum pernah terjadi
wujudkan semua anganmu menjadi kenyataan
aku selalu berdoa, semua yang terbaik senantiasa bersamamu


tak akan ada seorangpun yang mengambil tempatmu dihatiku
percayalah, aku selalu bisa menjamin hal ini
sulit untuk menemukan seseorang sepertimu
rasanya begitu sempurna

jadi ketahuilah kehadiranmu 
akan selalu dikenang dan dirindukan
terima kasih sahabat
terima kasih atas semuanya
beri maaf kepada diri ini mungkin selama ini mencipta khilaf

sampai jumpa sahabat,
marilah berjanji
perpisahan ini hanya sementara
bukanlah untuk selamanya 
simpanlah dalam kenangan
semua tangisan dan senyuman

berjanjilah
suatu hari nanti, 
di hari yang baik
kita akan bertemu lagi
ketika tiba saatnya kita 

kisahkan semua tentang kita

sampai bertemu kembali di perjumpaan selanjutnya.........


Baca Selanjutnya...

25 Februari 2013

Sepakbola Kita yang Sedang (Tak Pernah) Belajar

Setiap menonton sepakbola Eropa kita akan selalu disuguhi teknik tinggi dari pemain dan adu taktik para pelatih hebat. Indonesia? Di Indonesia, pemain bersama pelatihnya berkerjasama atur strategi mengeroyok wasit. Iya wasit, wasit dikeroyok!

Miris lihat nasib wasit Indonesia salah ambil keputusan sedikit pasti dihajar ramai-ramai. Kejadian "penghajaran" terhadap wasit masih terus terjadi.. terus.. terus.. terjadi..   Terakhir terjadi di pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia antara PSIS Semarang dan Persitara Jakarta Utara yang berlangsung di Stadion Jatidiri Semarang tanggal 18 Februari kemarin. Insiden itu terjadi karena pemain Persitara marah terhadap wasit yang mengesahkan gol kedua PSIS di laga yang dimenangkan klub asal semarang tersebut.

Dan lagi-lagi aparat keamanan cuma jadi boneka di dalam stadion. Apakah aparat cuma bisa nyelamatin wasit?? Jumlah mereka di stadion lebih dari cukup untuk menangkapi pemain-pemain yang mengeroyok wasit tersebut, namun apakah selama ini pernah ada yang ditangkap gara-gara memukul wasit di lapangan? Bila menangkap pemain terlalu shocked, gimana kalau saya ganti pertanyaan ini apakah pernah ada kejadian oknum yang menghajar wasit didakwa tindak pidana? Sejauh yang saya tahu, hal tersebut, belum pernah ada. 

Mengapa kejadian seperti ini di-setting di luar ranah hukum? Intervensi akan mengganggu objektivitas? Lalu buat apa aturan FIFA dibuat? Kemudian sudah ada Komisi Disiplin dan Panpel yang seharusnya menghukum si oknum pengeroyok. Sudah seharusnya hukum menyentuh peristiwa tersebut, sudah seharusnya mereka pemain pengroyok wasit dikenai hukuman, dihukum berat! Pemain yang melakukan penganiayaan harus bertanggung jawab atas kelakuan memalukannya. Hukuman yang diberikan harapannya akan menjadi pembelajaran bagi sepakbola Indonesia agar menjadi lebih dewasa dan menciptakan efek jera kepada pelaku, sehingga kejadian tersebut tidak terulang di masa mendatang. Kalau hukum kita masih stagnan begini, saya yakin akan ada darah wasit yang bakal mengalir deras di lapangan, tunggu saja.
Apakah kita harus menunggu sampai ada darah wasit mengalir deras di lapangan hijau? Apakah kita semua harus menunggu ada berita wasit tewas dikeroyok baru semua teriak-teriak? 
Menurut saya, terlepas dari baik-buruk kualitas wasit, wajar sih apabila wasit salah mengambil keputusan, mengingat dia hanya punya waktu sepersepuluh detik untuk memutuskan sesuatu. Wasit juga manusia, punya keterbatasan, tak luput dari kesalahan. Lihatlah wasit-wasit top di Eropa sana, Pierluigi Collina, wasit legendaris dari Italia, dia yang disebut wasit terbaik di dunia di masanya sekalipun juga pernah melakukan kesalahan, namun dia dan kawan-kawannya di Eropa tak pernah diperlakukan sampai seperti yang ada di Indonesia. Pemain-pemain disana begitu profesional, begitu dewasa, kalaupun ada pihak yang nekat melakukan perbuatan konyol kepada wasit, sudah pasti komisi disiplin asosiasi sepakbola disana sudah pasti akan mengambil tindakan tegas, dengan menghukum si perusuh tersebut, bahkan kalau perlu kepolisian disana akan membawanya ke ranah hukum pidana yang berlaku.  

Ini sangat jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. PSSI masih kisruh karena pimpinannya rebutan kekuasaan, sampai kepecah menjadi dua kepengurusan, liga pun menjadi dua, sampai mirisnya timnas pun ada dua. Makin runyam lagi kalau lihat profil pesepakbola kita yang susah diatur dan gak dewasa, serta awkward-nya dunia hukum kita. Died. Dengan kondisi yang amburadul seperti ini, puzzle masalah wasit yang teraniaya di lapangan pun menjadi lebih lebih lebih sulit untuk dipecahkan. Sepakbola negara kita memang tak pernah mau belajar. Pertanyaannya, sampai kapan wasit-wasit di Indonesia kudu mempertaruhkan nyawanya di lapangan?
"Mereka bilang kita sedang belajar, saya bilang kita tak pernah belajar sepakbola seutuhnya."
Dalam lanjutan kompetisi ISL musim 2012/2013, Pelita Bandung Raya menjamu Persiwa Wamena di Stadion Si Jalak Harupat pada Minggu, 21 April 2013 kemarin. Di pertandingan tersebut ada kejadian yang sangat mengejutkan, salah satu pemain Persiwa Wamena Edison Pieter Rumaropen memukul wasit pemimpin pertandingan hingga berdarah. Kejadian tersebut terjadi pada menit-menit akhir pertandingan. Kejadian itu terjadi pada menit ke-72, berawal dari wasit Muhaimin memutuskan untuk memberikan hadiah penalti bagi tuan rumah saat skor dalam keadaan imbang, 1-1. Keputusan sang pengadil lapangan pun langsung mendapat protes dari para pemain Persiwa. Namun, Edison Pieter Rumaropen yang tidak dapat meredam emosinya langsung berlari dari arah belakang dan secara tiba-tiba dirinya melayangkan tinju keras ke wajah Muhaimin. Akibat dari pukulan itu Muhaimin langsung mengalami cedera di bagian hidung dan dinyatakan tak bisa melanjutkan tugasnya. Ia pun diganti wasit cadangan, Tabrani. Peter diganjar kartu merah atas tindakan tak terpujinya itu. (sumber: sundul.com). Berikut ini adalah rekaman kejadiannya, yang menunjukkan betapa hancurnya sepakbola kita

Baca Selanjutnya...

13 Februari 2013

Almost Is Nothing But Precious

Aku tahu, mungkin ngga semua dari setiap waktuku selalu kuisi dengan perjuangan mencapai hasil yang kuinginkan, justru aku sempat meremehkanmu, lebih tepatnya meremehkan diriku sendiri, karena aku tidak percaya kalau kamu memang bisa aku raih. Hingga akhirnya aku tersadar dan terus berjuang hingga titik darah penghabisan, aku harus terus berjuang.

Setiap orang punya ceritanya sendiri di dalam kehidupannya masing-masing. Di dalamnya, ia diharuskan berjuang, berdiam dan menunggu. Iya, menunggu pun juga adalah bagian dari perjalanan. Menunggu. Itulah yang saat itu kulakukan, sebagai wujud puncak dari kisahku disini. Menunggu hasil perjuangkanku selama ini. Dan ketika perjuanganku berakhir, hal pertama yang kucari tahu adalah hasil apa yang berhasil didapat. Bukan hal lain. Bukan hasil apa yang hampir kamu dapat. Sejarah hanya mencatat seseorang yang berhasil meraih sesuatu bukan seseorang yang hampir berhasil meraih sesuatu. Kenyataan yang harus kuterima, meski kau hampir pasti kudapatkan tapi pada akhirnya kau tak ada di sampingku, entah untuk mengusap keringatku,  menenangkan sedihku dan merangkul kesepianku, meski sebelumnya harapan menyakinkanku bahwa kau bisa aku gapai. Aku mungkin akan menyesal dan memohon maaf bila perjuanganku ini tidak cukup kuat untuk mendapatkanmu tapi kenyataannya aku disini sudah memperjuangkan kehadiranmu semampu yang aku bisa.

Perlakuan pihak ketiga yang coba membuyarkan rencanaku dan membuat ini semua menjadi semakin berat untuk dilalui. Hal ini terasa pahit. Pahit, bayangkan ketika kamu berjuang mati-matian untuk mencapai sesuatu, tapi ada pihak lain yang seharusnya mendukungmu mencoba menghalangi jalanmu, dengan menghilangkan bukti perjuanganmu. Bayangkan seandainya bukti itu tidak hilang mungkin kamu bisa duduk bersamaku disini, membanggakan semua orang yang aku cintai. atau sekedar mengusap keringat yang mengalir di keningku atau setidaknya aku bisa mengerti alasan kenapa aku pantas mendapatkan itu semua. Ketika kamu tidak pernah bermimpi meraih sesuatu, dan di tengah jalan kamu sadar akan kemampuanmu hingga kita kemudian bermimpi meraihnya, lalu berjuang, hingga mendekati garis finish kita berada di posisi yang menyakinkan namun pada akhirnya kita dicegat dan akhirnya terjatuh. Indeed. Benar-benar pahit. 

Semua orang pasti akan merasa tersakiti ketika dia nyaris mendapatkan sesuatu, setelah dia berjuang habis-habisan ada seseorang yang mengganjal jalanmu. mempersulit langkahmu. Meskipun demikian kita harus bangga dengan pencapaian yang kita peroleh dengan perjuangan kita sendiri. Meski almost is nothing namun aku sadar sekarang bahwa aku tidak akan menyalahkan pihak lain lagi. Maafkan aku atas keegoisanku selama ini. Aku sadar dan akan aku anggap ini semua sebagai pembelajaran hidup, hal yang lebih precious and better. Bahwa aku sebenarnya bisa meraih sesuatu tak peduli betapa susahnya mencapainya asalkan aku mau berjuang, aku akan menemukan jalan kesuksesan. Meski pada akhirnya aku mungkin akan mengalami kegagalan dalam meraihnya, namun setidaknya aku sudah berusaha berjuang, berusaha memperjuangkannya. Dan jangan pernah berhenti bermimpi meski apa yang kamu peroleh mungkin bukan apa yang kamu inginkan, yakinlah bahwa Tuhan Maha Tahu apa yang kita butuhkan. Aku percaya rencana Allah pasti luar biasa buat aku, kamu dan kita semuanya. Aamiin. 
Good Bye Cum Claude. Dear 3.49, Welcome to my heart.
Baca Selanjutnya...

19 Januari 2013

Jangan Nanggung Kalau Mau Jadi Maling Di Indonesia

Bacalah kutipan berita berikut ini:
"AAL (15), pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Palu, di Jalan Tanjung Santigi, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, tentu tidak pernah menyangka karena mencuri sandal jepit seharga Rp 30 ribu ia harus berhadapan dengan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Palu, Sulawesi Tengah. AAL didakwa mencuri sepasang sandal jepit bermerek milik Brigadir Polisi Satu Ahmad Rusdi Harahap dari kos-kosannya pada November 2010 lalu. Hakim Tunggal PN Palu Rommel F Tampubolon yang menyidangkan kasus ini, Selasa 20 Desember sudah mendengarkan dakwaan jaksa. AAL didakwa Jaksa Naseh melakukan tindak pidana sebagaimana pasal 362 KUHP Pidana tentang pencurian dan dituntut 5 tahun penjara." | sumber.
“ABS (25), warga Desa Mulyoagung, Kecamatan Balen, Bojonegoro, Jawa Timur, divonis penjara empat bulan penjara karena mencuri seekor ayam. Dalam sidang yang dipimpin hakim ketua I Wayan Sukanila, Agus diharuskan menjalani hukuman yang lebih ringan dibandingkan dengan tututan jaksa Ali Munib, itu. Dalam tuntutannya, jaksa menuntut terdakwa agar dihukum enam bulan penjara.“ | sumber.

Kemudian bacalah kutipan berita berikut ini:
“Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menjatuhkan vonis berupa hukuman empat tahun enam bulan penjara ditambah denda Rp 250 juta subsider kurungan enam bulan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Angelina Sondakh alias Angie. Hakim menilai, Angie terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara berlanjut dengan menerima pemberian berupa uang senilai total Rp 2,5 miliar dan 1.200.000 dollar Amerika dari Grup Permai. Vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim terhadap Angelina Sondakh ini jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang menginginkan dia dijatuhi hukuman selama 12 tahun penjara.“ | sumber 
“Mantan Direktur Utama PT PLN, Edhie Widiono Suwondho, divonis bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam pengadaan proyek outsourcing (tenaga luar) Customer Information System Rencana Induk Sistem Informasi (CIS-RISI) di PLN Distribusi Jakarta Raya Tangerang 2004-2006. Edhie dijatuhi hukuman 5 tahun penjara ditambah denda Rp 500 juta, yang dapat diganti dengan hukuman kurungan 6 bulan. Dia terbukti melakukan penunjukan langsung terhadap PT Netway Utama sebagai pelaksana proyek CIS-RISI. Akibatnya, negara merugi Rp 46 miliar. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan hakim yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan hukuman tujuh tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta.” | sumber

Apa yang anda pikirkan setelah membaca kutipan berita pertama dan kutipan berita kedua? Ada banyak kesimpulan yang bisa kita peroleh dari kutipan-kutipan berita diatas. Saya tak akan menyebut semuanya, tapi hanya akan mengambil beberapa kesimpulan.

Pertama, soal tuntutan jaksa penuntut umum, maling sepasang sandal jepit yang harganya tak seberapa bahkan itu hanyalah sandal bekas, sandal yang mungkin bagi sebagian kita tak ada harganya namun tersangkanya dituntut hukuman 5 tahun penjara. Mari kita saksikan apa yang terjadi pada Mantan Dirut PT. PLN Edhie Widiono Suwondho, yang telah merugikan negara sebesar Rp 46 Miliar HANYA dituntut hukuman bui selama 7 tahun. Nominal uangnya beda jauh. Apalagi harga sandal yang dicuri harganya hanya sekitar Rp 30.000 dibandingkan dengan Rp 46 miliar, timbang banget, seperti langit dengan bumi namun apa yang terucap dari bibir jaksa ketika membacakan tuntutannya untuk kedua maling tersebut, cuma beda tipis, 2 tahun. Apa-apaan ini!! Bukannya saya membenarkan perbuatan pencuri sepasang sandal, namun menurut saya kasus tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan, tak perlulah dibawa ke meja hijau apalagi sampai dituntut 5 tahun penjara. Gila aja! 

Kedua, mengenai vonis yang dijatuhkan.  Lihat apa yang terjadi pada maling yang mencuri seeekor ayam, iya hanya seekor ayam tapi dia dihukum 6 bulan penjara. Walau hukum tak bisa pakai perkiraan kalkulator, namun coba bayangkan jika ia mencuri 10 ekor ayam, berapa hukuman yang ia akan ia terima? Iya benar, 5 tahun. Hukuman itu lebih berat ketimbang seorang maling negara, yang artinya ia sudah berada di level yang jauh lebih tinggi ketimbang maling yang mencuri seekor ayam tadi. Kenapa lebih tinggi? Ya maling negara ini merenggut hak sosial dan ekonomi rakyat sebesar Rp 2,5 miliar atau artinya sama nilainya dengan mencuri ayam 50.000 ekor jika harga ayam per-ekornya adalah Rp 50.000. Namun kenapa hukumannya malah lebih kecil dan sangat sangat sangat tidak sebanding? Jika disinkronkan dengan maling yang mencuri seekor ayam? Kenapa?

Hal ini jelas sangat tidak adil. Namun itulah kenyataannya, semua sudah terjadi di negeri kita. Seharusnya koruptor yang telah merugikan Negara bermiliar-miliar ini divonis setidaknya seumur hidup atau bahkan seharusnya dihukum mati. Tetapi tidak demikian. Dimana lagi rakyat kecil harus mencari keadilan. Hal ini jadi terkesan bahwa penegak hukum di Negara ini hanya menghargai orang yang mampu saja. Dengan munculnya vonis-vonis rendah bagi koruptor tersebut, mending Pengadilan Tipikor ngga usah digunakan untuk mengadili para koruptor tapi untuk mengadili mereka yang tersangkut kasus pencurian, seperti maling sandal, maling ayam, atau maling bambu. 

Sebenarnya hukum bukanlah masalah besar kecilnya vonis yang dijatuhkan, tetapi bagaimana caranya hukum yang ditegakkan membuat koruptor menjadi jera? Sehingga koruptor yang merugikan negara tersebut kapok, tidak akan berbuat lagi. Mungkin inilah sebabnya mengapa di  negara kita selalu ada terus koruptor setiap waktu, bahkan semakin berkembang seperti jamur di musim hujan. Hukum yang timpang ini juga menjadi penyebab makin sulitnya koruptor diberantas. Mereka selalu akan berbuat licik selama masih ada kesempatan untuk melakukannya. Toh hukuman yang ia terima juga sebentar, itupun setelah masuk oenjara ia masih bisa pesan sel yang di lengkapi fasilitas hotel bintang 5 pada ketua Lembaga Pemasyarakatan tempat ia di penjara. Indonesia memang ruwet. 

Ketiga, denda yang harus dibayar koruptor. Lihat apa yang Angelina Sondakh bawa dengan korupsinya, ia berhasil menggondol 2,5 miliar uang negara tapi berapa denda yang mesti ia bayarkan pada negara? Cuma Rp 250 juta! Berapa keuntungan yang ia dapatkan dalam sekali korupsi? 10 kali lipat dari denda tersebut. Kemudian saksikan kasus yang menimpa mantan Dirut PT. PLN, Edhie  Suwondho, ia “berhasil” merugikan negara sebesar Rp 46 miliar namun berapa subsider yang harus ia bayarkan? Cuma Rp 500 juta! Hampir 100 kali lipat lebih kecil dari uang yang dia korupsi. Sangat tak sebanding. Tak adil. Kalau mau efek jera, selain dihukum mati koruptor juga harus dimiskinkan, sita semua hartanya seperti dilakukan di hampir semua negara lain. Namun keadilan di negeri ini entah lagi jalan-jalan kemana...

Akhirnya saya, anda, kita semua, sebagai rakyat kecil hanya bisa melihat dan melihat, tidak dapat berbuat apa-apa, selain menyuarakan suara hati agar keadilan kita cepat pulang dan kembali pada tempatnya, dan orang-orang yang berhubungan dengan hukum cepat tersadar dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini

Kenapa rakyat kecil seperti kasus pencuri ayam dan sandal dihukum lebih berat ketimbang koruptor yang lebih kaya dan pandai serta lebih lebih lebih besar dalam merugikan negara? Di mana keadilan untuk rakyat kecil kaum melarat? Bukankah di mata hukum semua orang itu setara?

Namun mungkin saja, jawabannya karena si maling sandal atau si maling ayam itu miskin dan hanya mencuri sandal yang harganya tak seberapa sehingga ia tak mampu bayar pengacara mahal dan tak bisa menyuap hakim dengan uang hasil curiannya yang tak seberapa serta  goblok, tak mengerti hukum, sehingga dengan mudahnya dipermainkan hukum itu sendiri. Berbeda nasibnya dengan koruptor, sudah kaya, pandai, berhasil menggondol uang miliaran pula, sehingga ia bisa  bayar pengacara paling mahal sekalipun, suap hakim pun ia bisa dan tentunya hukum di negeri ini akan dengan mudahnya dikelabuhinya. Dari sini kita bisa menyimpulkan kalau mau jadi maling di Indonesia itu, jangan nanggung!, yang banyak sekalian, yang gedhe sekalian, biar bisa buat bayar pengacara, biar bisa bayar hakim juga, dan biar bisa ngibulin (lagi) hukum di negeri ini. Lagian bukankah kitab-kitab yang dipakai hakim itu namanya KUHP (Kasih Uang Habis Perkara) dan KUHAP (Kasih Uang Habis Angkat Perkara)?

Di mana lagi mencari keadilan di negara ini. Mungkinkah di lembaga pengadil? Mungkinkah kepada para penegak hukum di negara ini, Sedangkan sepertinya mereka hanya menghargai orang mempunyai duit. Atau mungkin pada keadilan sedang tidak berada di Indonesia? Kalau memang benar ia sedang jalan-jalan, kita harapkan dia cepat pulang, dan memberesi permasalahan huku, di negeri ini.  Kalau keadilan tidak kunjung pulang kembali, mungkin ada sedikit "saran" bagi mereka yang masih nekat menempuh jalur sesat, jadi maling: "jangan nanggung-nanggung jadi maling di Indonesia!"
Oh Dear Indonesia...
Baca Selanjutnya...