8 Februari 2010

Gelar Pahlawan Di Indonesia Tergantung Permintaan Pasar ( ? )

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Sebuah nama yang kini dikenang setelah ditinggalkan pemiliknya adalah Abdurrahman Wahid. Terhadap nama pendiri Partai Kebangkitan Bangsa ini, kini muncul kehebohan baru. Setelah kesedihan mendalam yang ditimbulkan karena kematiannya, nama Abdurrahman Wahid sekarang menjadi perdebatan luas sekitar keinginan untuk memberinya gelar pahlawan nasional. Gelar yang penganugerahannya sepenuhnya ada di tangan pemerintah atau negara.

Sebelum negara menolak atau mengukuhkan gelar pahlawan bagi Gus Dur sapaan akrab Abdurrahman Wahid, publik sesungguhnya telah menghormatinya dengan gelar guru bangsa serta bapak pluralisme. Beberapa kalangan malah menyebutnya bapak demokrasi. Sebuah gelar, apalagi gelar pahlawan, diberikan kepada seseorang karena ada unsur extraordinary dari pikiran maupun perbuatan seseorang yang menimbulkan dampak luar biasa bagi kemanusiaan. Karena luar biasa maka prestasinya nyata tidak bisa ditutup-tutupi. Karena prestasi dan karyanya luar biasa dan kasatmata.

Undang-undang telah mengatur soal gelar dengan jelas. Ada kriteria dan ada Dewan Gelar. Kalau berpegang dari kenyataan ini, sesungguhnya tidak beralasan untuk ribut-ribut soal pantas atau tidaknya Gus Dur dianugerahi gelar pahlawan nasional. Keributan terjadi dan inilah penyakit politik di Indonesia adalah memolitisasi perkara yang sesungguhnya telah terang benderang dan tidak memerlukan komplikasi. Karena politisasi maka gelar pahlawan Gus Dur sekarang ini menjadi bahan dagang sapi. Golkar, misalnya, mau mendukung Gus Dur sebagai pahlawan asal Pak Harto juga dianugerahi gelar yang sama.

Gelar sekarang cenderung menjadi adu pasar politik. Sebuah gelar diberikan tergantung seberapa kuat desakan politik. Maka penggalangan dukungan dikerahkan dengan berbagai cara. Ini menyalahi aspek kejujuran dari sebuah gelar. Kalau Dewan Gelar bekerja atas kriteria yang telah ditetapkan, sesungguhnya tidak perlu diributkan apakah Gus Dur pantas mendapatkannya atau tidak. Gus Dur, dengan segala kekurangannya, telah memberi kontribusi luar biasa bagi terciptanya ruang demokrasi di negeri ini. Adalah berbahaya ketika Dewan Gelar atau negara mendasarkan pemberian gelar pada mekanisme pasar politik. Siapa yang memperoleh dukungan paling banyak, dialah yang mendapatkan gelar.

Ini berbahaya karena akan muncul mobilisasi liar yang memaksakan kehendak. Bisa-bisa setiap kampung, setiap keluarga, memobilisasi dukungan untuk memperoleh gelar dari negara bagi kakek neneknya. Maka gelar hanya akan menjadi barang murahan.

Indonesia oh Indonesia....

Baca Selanjutnya...

7 Februari 2010

Hati-hati Dengan Valentine-mu

Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.

Cikal Bakal Hari Valentine
Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:
  • Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
  • Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
  • Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
  • Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.
Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme.

Selanjutnya kita akan melihat berbagai kemudharatan yang ada di hari Valentine.
1. Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir
Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ
“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholilno. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

2. Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman
Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.
Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.

Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

3. Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti
Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.
Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
مَا أَعْدَدْتَ لَهَا
“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,
مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,
فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan,
فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?

Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!

4. Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat
“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)

Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Telah dikemukakan pula di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”

5. Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.

6. Meniru Perbuatan Setan
Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine.

Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Itulah sebagian kerusakan/kemudharatan yang ada di hari valentine, mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan. Sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang saya peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. saya katakan: “Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran.”

Oleh karena itu, saya ingatkan agar kaum muslimin tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine, tidak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Ingatlah, Setiap orang haruslah takut pada kemurkaan Allah Ta’ala.
"Hati-hati dengan Valentine-mu"
Dari berbagai sumber.

Baca Selanjutnya...

20 Januari 2010

Pemimpin Berhati Nurani, Ku Merindumu

Sungguh miris melihat beberapa peristiwa yang terjadi di negeri ini belakangan ini. Kemiskinan, pembunuhan, KKN selalu menghiasi pemberitaan  di televisi.

Beberapa hari yang lalu, Seorang ibu di Depok, batinnya hancur lebur, nuraninya sebagai seorang ibu hilang karena dia menelantarkan empat anaknya di sebuah tempat. Bahkan ada seorang ibu di Nias, nekat membunuh 3 anaknya. Kemiskinan akut, jadi pemicu orang tua itu, melakukan tindakan nekat dan sadis tersebut. Mungkin banyak kasus-kasus  serupa yang kerap kita lihat di sekitar tempat kita tinggal. Tak harus menunggu muncul di berita untuk melihat realita getir ini. Saat kaki kita melangkah keluar pintu rumah pun, jika nuranl kita hidup, cerita pilu masyarakat kecil itu amatlah tampak.

Pada saat yang sama, tak sulit pula kita melihat keadilan penguasa yang timpang. Dana 6,7 triliun, yang begitu mudah diberikan pada bandit Century, salah satu faktanya, tak jelas dimana pengekan hukumnya. Di sisi lain, ketika seorang rakyat kecil tak berdaya menghadapi tuntutan hukum yang ditimpakan padanya karena melakukan sesuatu yang menurut saya sangat mudah untuk dimaafkan oleh orang-orang berhati nurani tetapi justru dihukum dengan tuntutan yang mengada-ada seperti  yang dialami seorang nenek karena kedapatan mencuri 3 buah Kakao.  Sungguh timpang hukum negara ini, bandit membawa uang 6,7 T didiamkan begitusaja, tak jelas arahnya sampai sekarang tetapi seorang rakyat kecil, yg mencuri buah cokalat seharga 223.333.333,3333 kali lebih kecil dari uang century begitu mudahukum negara kita memvonis.

Kenyataan baru yang tak menunjukkan empati sama sekali, saat pemerintah membelikan mobil mewah untuk menteri senilai Rp. 1,3 milyar. Kita semua serasa begitu ditohok, diperas,  akan kebijakan yang begitu anti kemanusiaan itu. Ongkos untuk memenuhi nafsu kekuasaan, birokrat dan pejabat di negeri ini sudah sangat kelewat mahalnya. Rakyat harus membayar untuk kemewahan hidup pejabat negara. Sebaliknya, mereka tidak cukup bukti menunjukkan kinerja dan pengabdian yang hebat. Kecuali, tabiat baru yang gemar mengiklankan diri di media massa, tentang apa mimpinya, bukan apa yang telah dikerjakannya.

Kebebalan meraba nurani ini, tak pelak dapat memicu kemarahan kelompok masyarakat yang putus asa. Koin untuk Prita Mulyasari misalnya, sebuah gerakan rakyat jelata yang melawan ketidakadilan penguasa. Fenomena semacam ini, mungkin akan terus tumbuh subur selama penguasa masih berhati batu. Seorang warga di Madiun,nekat menusuk  Bupatinya, lantaran tak puas dengan pemimpinnya itu ada juga seorang Ibu yang membakar kendaraan dinas perwira tinggi kepolisian, karena kasusnya yang tak kunjung usai.

Menuruti emosi, dalam ketidakadilan yang timpang ini, ibarat sumbu pendek. Mudah marah dan mengamuk. Orang lemah bingung mengadu dan tak tahu kemana berkeluh kesah. Untuk meredam ledakan ketidakadilan ini, kiranya ada peluruh hati yang dapat membentengi diri. Yaitu hati nurani, ya Pemimpin yang memiliki hati nurani terhadap rakyat-rakyatnya, pemipmin yang berhaati nurani niscaya mampu menahan diri untuk tidak mengambil semua yang bukan haknya dan selalu menjauhi hal-hal yang dilarang agama. tidak akan dengki terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Senantiasa peduli pada rakyat kecil dan lebih mengutamakan kepentingan rakyat dibanding kepentingan dirinya sendiri.

Akhirnya, relakah pemerintah tak melulu memfasilitasi kemewahan pada pejabat dan birokrat tanpa peduli akan hak-hak rakyat kecil, sementara masyarakat miskin selalu diam tak berdaya? Sungguh, negeri ini amat merindu para pemimpin yang berhati nurani. Jika ingin Negara ini berubah lebih adil dan baik.



Baca Selanjutnya...

8 Januari 2010

Mengapa IPK Mahasiswa Pas-pasan?

Kita semua tahu dalam setahun itu terdapat 365 hari. Kalau anda tidak tahu, mungkin anda berasal dari planet lain, hehe. Sebagai mahasiswa,  kita juga tahu bahwa 365 hari tersebut juga merupakan tahun akademik mahasiswa. Apakah benar demikian? Mari kita hitung bersama.

Hari Minggu, 52 hari dalam setahun, Anda pasti tahu kalau hari minggu adalah untuk Libur termasuk di kampus kita, Universitas Ahmad Dahlan dan kampus-kampus lain, maka dengan ini hari dalam kalender akademik tersisa tinggal 313.

Hari libur, anggaplah dalam setahun tidak kurang terdapar 13 hari libur. Hari tersisa tinggal 300.

Liburan kuliah (libur akhir semester dan libur Idul Fitri), Jelas dan pasti, semua mahasiswa akan berlibur atau pulang kampung dan tidak akan belajar, biasanya libur tersebut sekitar 2 bulan lebih, anggaplah sekitar 60 hari. Hari tersisa tinggal 240.

Sebagai manusia kita juga akan membutuhkan tidur untuk beristirahat, biasanya kita butuh 8 jam sehari untuk menjaga kesehatan, berarti dalam setahun kita membutuhkan 120 hari untuk tidur. Maka hari dalam kalender akademik tadi yang tersisa tinggal 120.

Jangan lupa, kita sebagai muslim, kita pasti akan mendahulukan ibadah seperti sholat dan ibadah-ibadah lain kan? Paling tidak 1-2 jam kita beribadah, anggaplah kita alokasikan 25 hari dalam setahun. Hari tersisa tinggal 95.

Bermain juga baik untuk kesegaran dan kesehatan untuk menghilangkan kejenuhan, paling tidak memerlukan 1 jam sehari. Terpakai lagi 15 hari. Hari belajar kita tersisa tinggal 80.

Makan dan Minum untuk bertahan hidup, paling tidak selama satu hari kita habiskan 30 menit untuk makan/minum (minimal 2 kali makan), hilang lagi 7 hari. Hari tersisa tinggal 73.

Jangan lupakan, Manusia adalah makhluk sosial, butuh berinteraksi dengan orang lain, kita ambil 1 jam perhari untuk berbicara dan berinteraksi. 15 hari terpakai lagi, Hari pun tersisa tinggal 58.

Terkadang kita pun bisa sakit, anggaplah paling tidak 4 hari dalam setahun, sudah cukup mewakili. Hari akademik kita pun tersisa tinggal 54.

Ujian ( Midterm dan UAS) itu sendiri biasanya dilaksanakan selama 4 minggu per semester berarti, 48 hari sudah teralokasi untuk ujian. Hari tersisa tinggal 6.

Jangan lupa juga, kita juga sering nonton dan jalan-jalan, hitunglah paling tidak 5 hari dalam setahun.

Dan Akhirnya, hari dalam kalender akademik kita pun tersisa tinggal 1 hari.

Satu hari yang tersisa itu kan HARI ULANG TAHUN, Masa belajar sih??

Dan akhirnya tidak pernah kita sadari sebelumnya, bahwa ternyata mahasiswa tidak memiliki hari tersisa untuk melakukan kegiatan akademiknya. Kapan belajarnya?? Jadi mungkin karena inilah mahasiswa IPKnya jadi pas-pasan.hehe

Just for Kidding.



Baca Selanjutnya...

2 Januari 2010

Happy New Year, Inikah Yang Dirayakan? Ironis!

Tahun baru 2010 Masehi sudah berlalu satu hari. Tapi aroma tahun baru ini masih saja terasa, satu hari sebelumnya yang namanya terompet dan mercon sudah mulai terdengar di mana-mana. Beberapa tempat termasuk mall, jalan-jalan, kampung-kampung dan kantor pemerintah sudah mulai menghias diri dengan pernik-pernik tahun baru. Bahkan ada juga yang sudah mempersiapkan banyak makanan, minuman bahkan acara special khusus tahun baru. Parahnya, ada juga yang punya ritual khusus di malam tahun baru yaitu mandi kembang ataupun "mandi" kembang api di tepat tengah malam tapi aku lebih suka menyebutnya ritual pembakaran duit, daripada dibakar buat kembang api kenapa nggak disumbangin ke masjid aja? Huft.. Jahiliyyah modern....

Banyak banget hal-hal nggak bener yang berkembang di tengah masyarakat berkaitan dengan tahun baru. Sudahlah tahun baru Masehi sendiri bukan termasuk bagian dari Islam, perayaannya sendiri malah cenderung ke arah maksiat. Tidak ada satu hal pun yang bisa diambil hikmah kebaikannya dari perayaan tahun baru Masehi ini.

Lalu bagaimana dengan mengucapkan selamat tahun baru? Tahun baru yang diperingati setiap 1 Januari itu sebenarnya juga bukan tahun baru Islam sama sekali. 1 Januari adalah tahun baru Masehi yang dihitung mulai dari kelahiran Mesias yang disebut juga Masehi. Nah, lho ternyata tahun baru 1 Januari ini tak terlepas dari budaya Kristen yang notabene tak ada ajarannya dalam Islam. Yang namanya ucapan ‘selamat tahun baru’ pada 1 Januari, pasti sebelumnya ada embel-embel ‘ucapan selamat natal’. Tak usah latah dengan mengucapkan ‘selamat tahun baru’ baik kepada temanmu yang Kristiani ataupun yang muslim.

Aku paling malas menerima ucapan selamat ataupun salaman dari teman yang sekadar mengucapkan selamat tahun baru 1 Masehi. Ku jawab, “Maaf, aku tak merayakan tahun baru Masehi.” Kadang ada teman yang ngeyel dan sinis mengatakan bahwa toh mau tak mau kita tetap memakai penanggalan Masehi untuk semua urusan. Oke, memang kita memakai penanggalan Masehi tersebut yang dimulai dari Januari hingga Desember, tapi itu bukan berarti kita juga dengan seenaknya bisa mengadopsi perayaan kaum Masehi itu yang penuh dengan kejahiliyahan.

Kesepakatan menggunakan penanggalan Masehi itu masalah siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai aja kok. Karena Amerika cs yang dibekingi Kapitalis saat ini berkuasa, gak heran kalo kalender Masehi yang dibikin semarak perayaannya. Begitu sebaliknya, bila satu ketika nanti Islam berjaya kembali seperti sebelumnya ketika Khilafah Islam belum runtuh, maka so pasti kalender Hijriah pasti dijadikan standard penanggalan internasional. Hal ini sudah terbuktikan kok sebelumnya ketika kekuasaan Kekhilafahan Islam membentang mulai dari Timur Tengah hingga ke Spanyol dan Bulgaria. Islam menaungi dua per tiga dunia euy. Keren banget kan?

Nah, sekarang ini bukan saatnya kamu membebek di acara-acara or ucapan selamat tahun baru Masehi. Bila pun 1 Januari dijadikan hari libur nasional dan internasional, let it that way. Biarkan saja begitu tanpa ikut-ikutan latah mengucapkan or merayakan sesuatu yang bukan bagian dari ajaran Islam.

Aneh banget melihat orang-orang berteriak kegirangan dengan menghitung mundur detik menuju pergantian tahun ketika jarum jam berjalan menuju angka 12 malam. Mereka bersorak-sorak, meniup terompet, mercon, membakar uangnya melalui kembang apnya disaat banyak orang hidup dibawah garis kemiskinan, minuman-minuman keras, berangkulan dan berpesta maksiat. So, what? Trus mau apa bila detik jarum jam telah melewati angka 12 malam? Toh, kemaksiatan terus berjalan, yang miskin tetep aja miskin, angka busung lapar terus meningkat di saat penjualan kembang api semakin laris. Ironis! Inikah yang dirayakan?




Baca Selanjutnya...