12 Desember 2008

Marga Al Maulachailah

Alawiyyin atau Bani Alawi atau Ba’alawi atau Al Abi Alawi adalah orang-orang yang bernasab kepada Rasulullah saw. Mereka itu adalah keturunan Rasulullah saw atau Dhurriyyaturrasul yang nasabnya melalui Habib Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uroidhi bin Ja’far Ash Shodiq bin Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husin putra Imam Ali bin Abi Thalib dan Siti Fatimah binti Rasulullah saw.

Yang pertama kali dijuluki (digelari) “Al Maulachailah” adalah Waliyyullah Abdurrahman bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad Maula Dawilah.

Soal gelar yang disandangnya karena Beliau bermukim di daerah pegunungan “Chailah” yang tersohor disebelah barat kota Tarim (Hadramaut).

Waliyyullah Abdurrahman Maulachailah dilahirkan di kota Tarim. Di karuniai 4 orang anak lelaki. Dari ke-4 anak lelakinya hanya seorang yang melanjutkan keturunan Beliau yaitu yang dinamai Sahil, yang dikaruniai anak bernama Muhammad, dan Muhammad bin Sahil dikaruniai 2 orang anak lelaki yang masing-masing bernama :
  • Umar, keturunannya disebut Sahil Chailah, yang hanya berada dikota Tarim (Hadramaut) saja
  • Salim, - menurunkan- keturunan “Al-Maulachailah”, yang kebanyakan keturunannya berada di Indonesia (di Palembang; di Pulau Jawa; di Madura dan di Ampenan Bali)
Waliyyullah Abdurrahman Maula Chailah pulang ke Rahmatullah di kota Tarim pada tahun 914 Hijriyyah. Semoga Allah SWT memasukkan Beliau Beliau ke dalam Surga dan menghimpunkannya bersama-sama para Nabi, para Syuhada, para Auliya dan para Sholihin. Aamiin.
Baca Selanjutnya...

Anak-anak Lebanon

Bermain dengan selongsong peluru
Berlarian di antara genangan darah
Berjalan di antara jasad syuhada
Berlindung di balik puing-puing

Anak-anak Lebanon.,
kehabisan air mata
kehilangan asa
tak lagi meminta iba
tak pernah ceria
tak sempat manja
tak tahu apa-apa

Anak-anak Lebanon hanya tahu satu kata,ENYAH
Anak-anak Lebanon hanya lihat satu warna,MERAH
Anak-anak Lebanon hanya pakai satu busana,SYAHADAH
Anak-anak Lebanon hanya pegang satu senjata,DARAH
Anak-anak Lebanon hanya ingin satu rumah,JANNAH
Anak-anak Lebanon hanya patuh satu manusia,NASRULLAH
Anak-anak Lebanon hanya dengar satu pekik, MUQAWAMAH
Anak-anak Lebanon hanya yakin satu asas, WILAYAH
Anak-anak Lebanon hanya dukung satu pasukan,
HIZBULLAH

sumber: VOA Indonesia
Baca Selanjutnya...

27 November 2008

Aku Sebagai Mahasiswa Farmasi Di Indonesia

Sampai saat ini saya kadang masih merasa telah membeli kucing di dalam karung, setelah dua tahun menjalani hari-hari sebagai mahasiswa farmasi, walaupun saya tidak terlalu kecewa karena saya menyukai kucing. Andaikata yang berada di dalam karung adalah Cristiano Ronaldo, pasti saya akan sangat depresi.

Seakan-akan saya telah menginvestasikan masa depan saya di tempat yang salah. Harusnya saya menjadi mahasiswa kedokteran saja, biar cepat menjadi kaya, atau menjadi mahasiswa teknik perminyakan seandainya saya pria — andaikata ROI dari pendidikan diukur dengan materi. 

Di manakah langkah seorang mahasiswa farmasi akan berhenti? Jawabannya tentu di liang lahat.

Tetapi sebelum sampai ke liang lahat, seorang mahasiswa farmasi akan lulus sebagai sarjana farmasi, kalau ia beruntung tidak di-DO. Setelah lulus sebagai sarjana farmasi, sebagian akan mengambil program profesi apoteker, apabila ia beruntung memiliki rezeki. Setelah lulus, ia akan bekerja, andai ia beruntung mendapatkan pekerjaan.

Menurut Anda, seseorang dengan gelar S.Far, Apt. di belakang namanya, akan bekerja sebagai apa? Jika Anda menjawab apoteker, jawaban ini mungkin menempati posisi pertama dalam survey Famili 100. Dalam kenyataannya, para mahasiswa farmasi di Indonesia masa kini banyak yang memandang sebelah mata terhadap profesinya sendiri.

Di jurusan (eh, maaf), prodi saya sendiri, sebagian besar teman-teman saya menjawab mereka menginginkan pekerjaan di industri farmasi setelah menamatkan program profesi apoteker mereka. Daripada menjadi apoteker di sebuah apotek, mereka lebih memilih untuk memiliki sebuah apotek dengan mempekerjakan apoteker yang lain. Ini pula yang secara implisit diisyaratkan oleh banyak dosen di sekolah saya kepada para mahasiswanya. Jadilah peneliti, jadilah dosen, jadilah farmasis di industri, kalau mau cari penghasilan tambahan bukalah apotek. 

Berapakah gaji seorang fresh graduate sarjana farmasi? Kurang lebih 1 juta. Ya, saya serius. Angka Satu juta rupiah atau 6 buah angka nol di belakang sebuah angka 1. Bandingkan dengan teman-teman fresh graduate dari jurusan informatika di gedung tetangga yang gaji awalnya dapat mencapai 8-10 juta rupiah. Itulah sebabnya para sarjana farmasi  melanjutkan pendidikan mereka dengan program profesi apoteker untuk meningkatkan nilai jual (atau beli?) mereka.

Ketidakadilan sosial? Tentu bukan, ini karena kurangnya penghargaan masyarakat Indonesia terhadap profesi apoteker atau farmasis. Yang disebut dengan profesi farmasis atau apoteker sendiri sebenarnya tidak terbatas kepada mbak-mbak atau mas-mas yang melayani Anda di apotek. Profesi farmasis dibagi ke dalam 4 bidang: farmasi industri, farmasi klinik, farmasi komunitas, farmasi regulatori. Keempat-empatnya memiliki spesifisitas tersendiri.

Bidang farmasi industri adalah lahan yang paling diminati oleh para sarjana farmasi pencari kerja. Sebagai farmasis yang bekerja di industri farmasi tentunya pekerjaan Anda relatif lebih menyenangkan, dengan tantangan-tantangan baru dalam bidang perkembangan formula berbagai sediaan, minuman dan makanan, riset terbaru dunia kesehatan, dan suasana kerja yang dinamis. Kompensasi berupa gaji pun relatif lebih besar dari ketiga bidang yang lain.

Yang paling membuat miris tentulah profesi apoteker, farmasis komunitas, sebab frase pertama yang terpikir oleh Anda saat mendengar kata-kata apoteker tentulah ‘tukang jual obat’. Itu tidak salah sama sekali. Namun yang salah adalah ketika ada profesi lain yang hendak menyerobot celah ini.

dikutip dari: http://astriddita.com/?p=9
Baca Selanjutnya...

Surat Untuk Osama Bin Laden


"Surat Untuk Osama Bin Laden"

Osama,
Kamu tidak pernah bilang padaku
Kalau kamu mau meledakkan WTC dan Pentagon
Bush juga tidak punya bukti sampai sekarang
Jadi aku memilih percaya
Pada cinta yang terpancar
Di balik keteduhan matamu
Pada semangat pembelaan yang tersimpan
Di balik lebat janggutmu.

Osama,
Kamulah yang mengajar
Bangsa-bangsa yang bisu untuk bisa bicara
Maka mereka berteriak.

Kamulah yang menanam bibit-bibit keberanian,
Di ladang jiwa orang-orang penakut
Maka mereka melawan.

Kamulah yang menebar nikmat kemerdekaan,
Di renung kalbu orang-orang tertindas
Maka mereka berjuang.

Kamulah yang mengobarkan harapan di langit
Hati orang-orang terjaga
Maka mereka memberontak.

Osama...
Kamulah yang mengunci mulut bangsa-bangsa adidaya,
Supaya mereka terdiam
Maka mereka hanya bisa mengamuk.

Kamulah yang meruntuhkan keangkuhan
Dari jidat bangsa-bangsa arogan
Maka mereka terbungkam.

Kamulah yang merampas rasa aman
Dari jiwa bangsa-bangsa tirani
Maka mereka tak pernah bisa tidur nyenyak.

Kamulah yang merenggut selera hidup
Dari langit hati bangsa-bangsa makmur itu
Maka mereka tak lagi menikmati hidup.

Osama oh Osama... Osama oh Osama...
Mari kita nyanyikan lagu kemenangan
Bersama nurani anak-anak manusia
Yang telah menemukan kehidupannya.

Osama oh Osama... Osama oh Osama...
Mari kita senandungkan lagu keabadian
Bersama nurani anak-anak manusia
Yang merindukan taman surga


"Jawaban Osama"

Saudaraku,
Surat ini sudah kuterima
Aku baik-baik saja di sini
Aku masih minum teh di pagi hari
Dan menikmati sunset di sore hari
Aku juga masih mengendalikan bisnis
Dan mengontrol jaringan Al-Qaidah
Dari balik gua-gua Afghanistan.

Tenanglah saudaraku,
Karena jadwal kematianku
Tidak ditulis di Pentagon atau Gedung Putih.

Saudaraku,
Aku menonton aksi-aksi kalian di TV Al-Jazirah
Aku senang kalian mulai berani berbicara
Aku suka kalian sudah bisa bikin Bush marah-marah
Aku gembira kalian sudah bisa bilang tidak
Aku bahagia kalian mulai belajar jadi singa
Aku terharu kalian miskin-miskin tapi mau nyumbang...
Aku terheran-heran kalian kecil-kecil
Tapi mau jihad ke Afghanistan
Aku pikir kalian ini anak-anak ajaib.

Saudaraku aku mau buka rahasia sama kamu
Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa.

Kamu tahu nggak,
Kenapa orang-orang Taliban sayang sama aku
Kata mereka ternyata karena aku lucu
Bocah-bocah Afghan juga senang padaku
Kata mereka karena aku bawa mainan
Pesawat-pesawat Amerika untuk mereka
Para pemulung Afghanistan juga suka padaku
Kata mereka karena roda-roda lama mereka itu
Bisa jadi besi tua yang laris.

Orang-orang Amerika itu terlalu serius
Padahal kita cuma sedang bermain di halaman surga.

Saudaraku,
Kalau nanti Allah memilihku jadi syahid
Utusanku akan datang menemuimu
Membawa sebuah pundi kecil
Itulah darahku,
Siramlah taman jihad di Ambon, di Ternate dan Poso
Tapi kalau aku bisa mengubur keangkuhan Amerika di sini
Aku akan datang ke Indonesia
Kamu tahu apa yang akan aku lakukan
Aku hanya mau investasi di negerimu.

sumber:  http://bara-zenith.blogspot.com/2008/10/surat-untuk-osama.html
Baca Selanjutnya...

Selamat Pagi Palestinaku

Daunku membiru merasaimu
Kabutku hitam membauimu
Pagi…Palestina
Wangimu masih juga melampaui udara
Aku tersedak
Sedang jiwa-jiwamu mengangkasa tanpa tersentak

Bangga, debu-debu di sini mengejeki kaki langit
Patung-patung jalan kota memunguti sampah jalur cepat
Benar saja, kami lupa bumi ini telah tua
Anak-anak kami kehabisan udara

Sebaiknya episode ini disudahi saja
Tapi kegelapan… ketakutan
Hati tinggal separuh
Harga masih meluruh

Bayi-bayimu merundui syahadah… Palestina
Tanah, air, udara dan langitmu disucikan darah
Mungkin tubuhmu telah bernanah
menanggungkan jengkal demi jengkal amanah
menanti segala pohon… segala batu…
Meriakkan luka demi luka sucimu

Pagi… Palestina
Aku tahu, siang dan malammu tak jauh beda
Tapi di sini kami sekedar berduka
Raga dan jiwa terpasung
Rindu dan cinta terkungkung
Bisakah kau sisakan sepotong langitmu yang tembaga?
Barangkali
Sempat kupeluki engkau dengan lugu
Sempat kusimbahi engkau dengan rindu

"Allahu Akbar…!!!!!!!!!!"

"Ya ALLAH berilah mereka "kekuatan" tuk menghadapi kekejaman Israel"

sumber: http://boemi-islam.net/Syair/Puisi/pagi-palestina/
Baca Selanjutnya...