22 April 2011

Mengapa Ada Peta Indonesia di Website Israel??

Pernah membuka website http://www.us-israel.org/ ?? Di dalam web tersebut dapat kita lihat dalam peta itu terdapat beberapa wilayah Indonesia mendapat coretan merah terutama Pulau jawa dan Maluku utara. Untuk lebih jelasnya buka saja langsung website-nya. Banyak yang bertanya di forum-forum online Kenapa malah peta Indonesia yang ditampilkan disana kenapa bukan Amerika atau israel? Tak sedikit juga yang menduga "ada udang dibalik bakwan". Well, terus itu sebenarnya web apa? tujuannya apa? dan untuk apa?

Menurut saya http://www.us-israel.org/ itu hanya domain parking aja. Banyak kok di internet domain parkin macam gini, seperti:

Domain parking biasa digunakan oleh penyedia layanan domain (atau lebih mudahnya alamat) untuk mengalihkan sementara alamat tersebut ke alamat lain dengan menggunakan template yang sejenis/setema dengan judulnya, coba kamu cek salah satu web yang saya sebut diatas seperti whttp://marketing.info/

Sebenernya ada ribuan domain parking memiliki tampilan (layout) yang seragam alias kembar, biasanya tampilan yg muncul akan random sesuai nama domain, ngga ada content, dan umumnya hanya ada satu page karena domain itu belum memiliiki hosting (bahasa gampangnya rumah). Setelah rumah itu sudah terbentuk maka alamat(domain) akan kembali ke rumah yang sebenarnya tidak lagi ke domain parking.

Situs http://us-israel.org/ ini juga sudah lama ngga diupdate (lihat disini http://who.is/whois/us-israel.org/), mungkin si pemilik kehabisan dana kali yee, jadi ga mampu beli hosting sehingga penyedia layanan domain mengalihkan ke domain parking.

Masalah gambar peta indonesia muncul disana itu hanya kebetulan karena gambar yg terpilih akan secara random seperti domain parking lainnya. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan negara USA atau Israel, walau tidak menutup kemungkinan ada maksud terselubung disana. Tapi sebaiknya kita berkhusnudzon terlebih dahulu terhadap suatu perkara yang belum kita ketahui.

Silahkan untuk lebih jelasnya tanyakan kepada ahli IT yang kamu kenal, mungkin jawaban mereka lebih memuaskan dan lebih menyakinkan daripada jawaban anak farmasi yang "sok tau" masalah domain/hosting. hehe..
Baca Selanjutnya...

12 Maret 2011

Jepang, Si "Raksasa" yang Tak Pernah Menyerah

Tsunami dan gempa besar kembali menimpa Jepang. Gempa yang terjadi 11 Maret 2011 lalu dengan kekuatan 8,9 skala Richter merupakan gempa dengan kekuatan terbesar yang pernah terjadi di negara tersebut. Gempa tersebut juga memicu terjadinya tsunami dengan ketinggian 4 meter dan menyapu ribuan mobil serta bangunan di wilayah pesisir pantai Jepang. Hingga saat ini, pihak kepolisian dan juga media massa Jepang mengatakan setidaknya 402 orang meninggal akibat bencana alam tersebut dan ditakutkan lebih dari 1.000 orang menjadi korban dari tsunami dan juga gempa bumi di Jepang. 

Tetapi percayalah negara ini pasti akan segera bangkit seperti yang sebelumnya menimpa negeri sakura ini, Jepang adalah negara yang harus diakui sebagai negara yang bangkit dari keterpurukan dan terus bergerak maju. Dunia mengakui ketika Hiroshima dan Nagasaki lulu lantak oleh bom atom dalam waktu yang relatif singkat telah membuat dunia terkesimak dengan kemajuan yang di tampilkan. Sekalipun harus diakui penyebab kerusakan di Asia khususnya karena perang adalah Jepang, dan hal ini diakui oleh oleh perdana menteri Jepang Naoto Kan dalam acara memperingati matinya 2.300.000 tentara Jepang dan 800.000 warga sipil dalam PD II.

“Negara kita mengakibatkan kerusakan besar dan rasa sakit pada orang-orang di negara-negara di Asia dalam perang,” ujar Kan dalam upacara pemerintah Jepang memperingati akhir PD II di aula Nippon Budokan, Tokyo Chiyoda Ward seperti dilansir japantoday.com, Minggu (15/8/2010). “Kami merasakan penyesalan yang mendalam, dan kami memohon perasaan duka cita yang tulus kepada mereka yang menderita dan keluarga mereka,” tambahnya.

Kejujuran Jepang mengakui sebuah kesalahan besar dalam sejarah patut ditiru oleh bangsa lain. Pasca Tsunami Dasyat yang melanda Jepang pada Jum’at 11 Maret 2011, mungkinkah akan bangkit lagi, waktu yang akan membuktikan apakah jepang akan kembali menunjukkan kehebatannya kepada dunia. Sekalipun antisipasi terhadap tsunami begitu luar biasa sudah dilakukan, tetap saja Jepang harus belajar lebih banyak dalam menangani datangnya tsunami.

Apa jadinya jika bencana itu terjadi di Indonesia, bisa jadi korbannya jauh lebih banyak dan pemerintahnya hanya mengucapkan kata prihatin dan belasungkawa, semoga bangsa ini belajar dari empuhnya tsunami, karena kata tsunami sendiri muncul dari Jepang. Kata “tsunami” berasal dari Jepang yang berarti gelombang besar dari dalam laut. Gelombang tersebut bisa dipicu oleh terjadinya gempa tektonik dari dalam laut dan akhirnya menimbulkan tsunami sebagai implikasi dari dorongan akibat gempa tersebut.

Siapa pun pasti tidak menduga sebuah bangsa yang tidak berfisik besar dapat mengalahkan bangsa Barat yang dikenal lebih maju dan beradab. Setelah bom atom Amerika menghujam jantung kota Jepang tahun 1945, semua pakar ekonomi saat itu memastikan Jepang akan segera mengalami kebangkrutan. Namun, dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, Jepang ternyata mampu bangkit dan bahkan menyaingi perekonomian negara yang menyerangnya. Terbukti, pendapatan per kapita dan taraf hidup rakyatnya yang menempati posisi kedua tertinggi di dunia. Pada pertengahan era 1990-an saja, Produk Nasional Bruto (PNB) Jepang mencapai US$ 37,5 miliar. Angka tersebut sekaligus menempatkan posisi Jepang di belakang Swiss yang memiliki PNB tertinggi di dunia yang berjumlah US$ 113,7 miliar. Selain itu Jepang juga tidak memiliki utang luar negeri.

Apa sesungguhnya rahasia dibalik kesuksesan Jepang dalam kanca percaturan di dunia sehingga bisa jadi anak kecil sampai dengan orang dewasa sudah mengenalnya, bahkan terlalu sering kita mendengar belajarlah kedisiplinan dari Jepang.

Seperti yang kita ketahui bahwa jepang adalah salah satu negara yang mengalami kekalahan pada perang dunia ke II, akan tetapi sebagai suatu negara yang mengalami kekalahan mereka ternyata tidak lantas menjadi negara pecundang malahan mereka bisa bangkit dari keterpurukan dan kembali menjajah negara negara lainnya, di segala bidang mereka mengalami kemajuan pesat seperti di bidang tekhnologi, otomotif, olahraga dan banyak lagi.

Di balik kehebatan dan kesuksesan mereka ternyata ada 10 rahasia yang selalu di jalankan dalam kehidupan masyarakat mereka, apa sajakah sikap-sikap orang Jepang yang bisa kita contoh biar bisa sukses seperti mereka ??


1. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Orang Jepang sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharap bayaran. Mereka merasa lebih dihargai jika diberikan tugas pekerjaan yang berat dan menantang. Bagi mereka, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar, secara otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam pikiran dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin dan mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan.

2. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. (Shinchan dulu pernah kirim SMS ke saya seperti ini: "Coba para pejabat di negerimu mempunyai sifat kayak gini gak bakalan ada deh yang namanya KKN" , Saya Jawab: "Disini udah jadi tradisi bos, ngga bisa diubah-ubah. Cape deh")

3. Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.


6. Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). 

7. Budaya Baca
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak seorang WNI disana yang sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Disana dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Setelah masuk Universitas mahasiswa disana mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. 
Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Baca dan resapilah rahasia-rahasia Jepang diatas. Sebenarnya rahasia-rahasia yang diterapkan di Jepang adalah hal yang telah diajarkan oleh para pendahulu kita, orang tua kita, namun kita sering menganggapnya remeh, atau malah tidak pernah mau tahu apalagi melakukannya, Tetapi lihatlah apa yang terjadi di Jepang, mereka selalu bisa bangkit dari keterpurukan yang terus-menerus menimpa mereka dan bahkan menjadi salah satu negara "superpower" dan menjadi negara paling power di mataku karena mereka kembali "menjajah" negara  lain dengan karya mereka di berbagai bidang. 

Kalau mereka bisa kenapa kita tidak? Ayo kita pasti bisa, Jangan hanya terkenal sebagai "Negeri Interupsi" atau "Negeri Demo" tapi "No Action"!  Tidak ada alasan bagi Indonesia tidak bisa menjadi seperti Jepang. Indonesia memiliki sumber alam melimpah dari pada Jepang, tenaga manusia murah, infrastruktur yang baik, dan kedudukan geografis yang strategis. Tergantung kemauan, komitmen dan langkah pasti pemerintah serta masyarakatnya dalam mengaplikasikan formula ekonomi yang ampuh tersebut. Jika bangsa Jepang bisa melakukannya, maka tidak ada alasan untuk kita gagal melaksanakannya. Kekuasaan ada ditangan kita dan bukan terletak pada negara. Di akhir tulisan ini, saya ingin meminjam kata populer di kampanye Capres tahun lalu, Ayo Kita Juga Bisa Bangkit! Bersama Kita Bisa!!
Baca Selanjutnya...

27 Januari 2011

Ada Apa Dengan Apoteker Kita ???

Saya mahasiswa farmasi semester atas di sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Jujur dari kecil saya tidak pernah punya cita-cita atau sekedar ingin menjadi seorang farmasis atau apoteker. Bahkan saya tidak tahu apa itu farmasi dan ternyata ada jurusan farmasi, sampai awal-awal kelas 3 SMA saat sebuah universitas negeri membuka Ujian Masuk atau yang lebih sering disebut UM. Setelah itu saya mendapat brosur pendaftaran dari sekolah, nah dari situ saya baru mendengar apa yang disebut Farmasi, karena di daftar fakultas Universitas itu ada Fakultas Farmasi, (Aneh memang kenapa saya baru ngeh.. haha). Saking penasarannya saya langsung hunting tanya sana-sini, dan kesimpulannya farmasi adalah jurusan yang bergengsi mirip kedokteran, masuknya susah karena harus berebut dengan puluhan ribu pesaing, setelah lulus di farmasi bisa mengambil pendidikan profesi  Apoteker, sebuah profesi yang konon tidak kalah dengan kedokteran penghasilannya pun "bisa diharapkan" untuk menjamin masa depan, dan yang terpenting lapangan kerjanya luas, lulus bisa langsung kerja, itu kata bukan kata satu atau dua orang saja, saya menyimpulkannya dari pendapat banyak orang mulai dari orang awam, apoteker bahkan dokter pun saya mintai pendapatnya.

Dulu yang sering terbersit di  pikiranku hanyalah untuk ingin menjadi dokter atau insinyur, tapi berbagai pertimbangan mulai dari biaya dan hasil tanya sana sini seperti yang saya ceritakan diatas, mempengaruhi keputusanku saat itu dan saya langsung jatuh cinta dengan jurusan ini, saya pun mengambil jurusan Farmasi saat mengikuti UM namun  karena ternyata Allah berkehendak lain saya belum diterima disana. Saya sempat diterima di universitas top di Semarang saat itu tapi saya sudah jatuh hati dengan jurusan ini, dan saya pun menolaknya hingga Akhinya saya diterima di Universitas lain dikota yang sama dengan jurusan farmasi tentunya. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga mengambil jurusan ini. Jurusan yang belum lama saya kenal namun saya sudah begitu cinta, halah...

Skip..... Tapi, ternyata, setelah beberapa semester kuliah saya mulai menyadari profesi farmasis/apoteker di Indonesia adalah profesi yang sangat-sangat penuh dengan masalah, mulai dari dispensing obat sampai adanya permasalahan puyer dan masih banyak masalah lain.. So Complicated…  Contoh :
  • Sangat banyak orang tidak mengenal apa itu profesi apoteker, tapi yang lebih parah, apotekernya sendiri yang tidak mengenal apa itu profesi apoteker, sehingga apresiasi masyarakat luas untuk profesi apoteker sangat-sangat kurang (karena memang kontribusi apoteker untuk masyarakat luas pun sangat-sangat kurang)
  • Organisasi profesi yang berhibernasi, tidur cukup lama. Bahkan banyak rekan-rekan apoteker yang bertanya, "Apa sih untungnya terdaftar jadi anggota IAI (dulu ISFI)?" Tapi mudah-mudahan IAI yang sekarang bisa lebih baik, karena minimal terlihat sudah punya niat kuat untuk mulai bangun dari tidurnya. Organisasi ini sepertinya tidak menyentuh para Apoteker dan calon Apoteker yang masih menimba ilmu di bangku kuliah bahkan mungkin saja ada yang tidak tahu apa itu IAI.
  • Banyak hal yang ngga bener terjadi di lapangan. Selama saya PKL semester kemarin, saya banyak melihat kejadian di lapangan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Misal, saat PKL di sebuah Puskesmas, APA di Puskesmas tersebut dengan terkadang sesuka hati memberikan obat yang ada di ruang obat itu, apabila ketika ada temannya, entah itu petugas puskesmas atau bukan, dengan cuma-cuma, Korupsi sudah terjadi pada hal-hal kecil macam ini, Korupsi tetaplah korupsi. Ada juga keadaan alat yang digunakan pun miris, dari alat racik puyer yang seharusnya digunakan untuk membuat jus digunakan disini, alat ini juga hanya dibersihkan sekali sehari, oke, alatnya sudah dibersihin dengan tissue, tissue, iya tissue, mana mungkin bisa sebersih yang kita harapkan, lagian tissue juga gak bisa menjangkau semua permukaan alat. Lain lagi, ketika PKL di Apotek saya juga melihat hal-hal yang sebenarnya tidak sesuai teori yang kita pelajari di bangku kuliah. Misalnya, antibiotik yang termasuk golongan obat keras dan harus diperoleh dengan menggunakan resep dokter, namun bila ada pasien yang menginginkannya, dia bisa datang ke apotek dan memperolehnya dengan mudah seperti membeli permen. Jumlahnya pun suka-suka. Selain itu slogan “Tiada Apoteker Tiada Pelayanan” seperti sebuah isapan jempol. Aping (Apoteker Pendamping) di apotek ini hanya datang pada pagi hari, dimana pada pagi hari, jarang sekali ada pasien membawa resep ke apotek ini, di best time-nya apotek, sore hari  hingga malam hari justru tak ada apoteker yang melayani obat-obat, yang ada hanyalah AA (Asisten Apoteker). Lalu kemana APA (Apoteker PenanggungJawab Apoteker)-nya?? APA yang seharusnya menurut UU harus selalu ada di apotek setiap saat, dia malah tidak pernah ada di apotek, bahkan selama saya PKL di apotek ini, APA tidak pernah ada, saya pernah bertanya kepada Aping-nya, dan ternyatanya si APA ini hanya datang ke Apotek sebulan sekali!! #tepokjidat
  • Standar gaji apoteker yang termasuk rendah, bahkan bisa dikatakan sangat rendah apabila dibandingkan dengan tingkat kesulitan ilmu (baik saat kuliah (belum biaya kuliah di farmasi yang tinggi) maupun saat praktek di lapangan) dan resiko pekerjaan yang akan dihadapi. Pekerjaan apoteker tentu sangat berhubungan dengan keselamatan jiwa seseorang, karena sangat erat hubungannya dengan obat yang notabene racun bagi tubuh (walau semua kembali kepada takdir Allah SWT). Ini sangat bertolak belakang dengan apa yang saya pikirkan saat awal masuk jurusan ini .
  • Masih banyak apoteker yang masih merasa "tidak ada apa-apa atau semua baik-baik saja" dengan profesinya. Nah ini yang lumayan parah. Gimana kondisi profesi ini bisa membaik jika personilnya sendiri tenang-tenang saja?.
  • Lapangan kerja yang konon katanya sangat luas tapi nyatanya?? Membuka Apotek?? Sekarang Apotek sudah seperti jamur, contohnya di Jogja dalam radius 500meter saja ada paling tidak 2-3 Apotek ini tentu bukan persaingan yang sehat tentunya bahkan ada apoteker yang hanya berpenghasilan sekitar Rp. 20.000 adalagi yang lebih parah ada apoteker yang cuma digaji Rp. 500.000 perbulan, ini kalo dirata-rata hanya dapat Rp. 16.000/hari. Hadeh, ini sangat miris jenderal.  Mau nyambi buka apotek sambil kerja lain? Ada SK yang mengharuskan Apoteker harus selalu ada di Apotek, jujur saya bilang kerja menjadi Apoteker Terlalu ribet, Terlalu banyak aturan.  Mau kerja di Industri? Iya, gajinya besar, namun untuk masuk kesana susahnya setengah mati, persyaratan yang diajukan pelaku industri juga berat, lowongan kalau ada paling hanya satu dua kursi saja. Mau jadi PNS?? Sama saja, lowongan yang ada untuk bidang profesi Apoteker sangat sedikit atau malah sering tidak ada lowongan. satu pertimbangan lain adalah Gaji seorang apoteker di PNS pun rendah banget, di Yogyakarta saja cuma 1,5- 1,7 juta perbulan, kalau memang apotekernya masih lajang bolehlah, tetapi kalau sudah punya keluarga? mana cukup! Lain lagi tanggung jawab, seorang PNS kepada negara, yang harus menjadi pelayan masyarakat, ini otomatis mematikan niat para PNS yang ingin bekerja di bidang lain. Oleh karena itu, banyak para lulusan Pendidikan Profesi Apoteker dengan terpaksa harus banting stir memilih profesi lain, bahkan ada kawan saya lulusan apoteker, rela lebih memilih menjadi karyawan di sebuah asuransi dan ini bukan hanya disebabkan masalah sedikitnya lapangan pekerjaan, tetapi juga hal lain, seperti rendahnya gaji yang diterima saat menjadi apoteker, bahkan lebih rendah dengan gaji seorang karyawan biasa yang bekerja di suatu perusahaan swasta.
  • Profesi Apoteker kurang dipercaya oleh masyarakat. Kita punya ilmu farmasi yang kita pelajari  secara susah payah dan penuh perjuangan di perkuliahan. Tetapi ketika membaginya kepada orang awam, dengan embel-embel saran apoteker, rasanya seperti tidak mempercayai kredibilitas apoteker, bahkan mereka lebih percaya pada dokter dan perawat.. Saya kutip perkataan temen saya yang sudah menjadi apoteker di suatu apotek: "kalau mereka nanya obat selalu kata dokter, kalau yang kita bilang ngak sama dengan brosur obat , mereka pasti ngak percaya ama kita, padahal kita udah jelaskan kalau kita ini apoteker" . Saya tak bisa bilang apa-apa ketika mendengarnya, miris...
  • Ada yang mau kasih komentar? Menambahkan? Atau mengurangi? Atau lainnya?
Masalah-masalah diatas yang membuat saya sedikit "menyesal" bahwa telah mengambil jurusan ini. Tapi apa mau dikata, saya sudah tercebur di lautan ini, sudah terkanjur basah, basah saja sekalian. InsyaALLAH, DIA akan memberikan bimbingan pada saya dan semua mahasiswa Farmasi untuk sukses dengan profesi ini. 

Di akhir tulisan ini saya ingin memberikan sebuah pertanyaan, Ada Apa Dengan Apoteker Kita???
Baca Selanjutnya...

24 Januari 2011

11 Alasan Mengapa Gaji SBY Sudah Terlalu Besar

Wahai Pak SBY.... Dengan gaji sebesar 62 juta/bulan dan dana taktis 2 milyar sebulan menurutku sudah terlalu besar untuk ukuran Negara Indonesia karena :
  1. Anda tidak perlu bayar kontrakan rumah (Istana Negara yang gratis untuk anda, apakah masih kurang megah dibandingkan dengan rumah-rumah  rakyat dibantaran Kali Code?)
  2. Anda tidak perlu bayar transportasi untuk kerja (Mobil Mercy mewah sudah siap untuk anda)
  3. Anda tidak perlu bayar pulsa atau telpon (provider komunikasi mau menjadi "sponsor" komunikasi anda)
  4. Anda tidak perlu bayar asuransi (negara sudah menjamin anda Pak)
  5. Anda tidak perlu pusing mengurusi biaya konsumsi sehari-hari dan masalah rumah tangga lainnya
  6. Anda tidak kena potongan gaji karena terlambat masuk kantor karena anda selalu dikawal oleh Vorijder dan kita semua tahu bahwa "Road Blocker" untuk anda menghabiskan anggaran sebesar Rp 49 milyar.
  7. Anda tidak perlu keluar uang kalau ingin berlibur (Anda bisa minta uang sama Dirjen Pajak kapanpun anda mau) :p
  8. Anda tidak perlu beli baju dan sepatu kerja karena sudah ada anggaran khusus yang nilainya lebih dari Rp 42 Milyar pertahun itu bisa beli pakaian berlapis berlian, masih kurang pak?
  9. Anda tidak perlu pusing bayar bayar furniture dan perbaikan gedung Istana kenegaraan karena anggaran sebesar Rp 100 Milyar sudah disediakan untuk anda.
  10. Anda harusnya sudah sangat nyaman dengan Pasukan yang selalu mengawal anda, anda harusnya tahu pengamanan fisik dan non fisik VVIP Presiden membbutuhkan anggaran Rp 52 milyar.
  11. Gaji Anda 28 kali lebih tinggi dari pendapatan Per Kapita dan ini adalah gaji dengan kesenjangan tertinggi ketiga dari 22 negara pada tahun lalu.
Masih banyak alasan-alasan lain, Anda seharusnya tidak perlu mengeluhkan gaji anda dan semua kebutuhan anda. Why? Kenapa?  Karena semua rakyat Indonesia-lah yang menanggungnya dengan membayar pajak walau ujungnya di"caplok" Gayus di Kantor Pajak. 

Apakah anda masih mengharapkan gaji anda naik? sementara jutaan rakyat anda hanya untuk mendapatkan 500 ribu/bulan sudah sangat susah?
Baca Selanjutnya...

4 Januari 2011

Gunakanlah Nalar Kita Untuk Melawan Sugesti PowerBalance

Hari ini saya membaca berita di kompas.com dan detik.com, bahwa ternyata  khasiat yang ada di gelang PowerBalance dinyatakan palsu oleh Badan Pengawas Konsumen Australia (ACCC). Bahkan hal ini juga diakui oleh produsen gelang tersebut, mereka mengakui gelang buatannya adalah Scam. Scam adalah upaya mengelabui orang lain dengan mengajukan bukti-bukti yang seolah-olah kuat.

Dari artikel yang dilansir oleh situs Gizmodo, dengan judul “PowerBalance Admits Their Wristbands Are a Scam“, bisa dibaca disini, memuat pernyataan minta maaf yang dimuat di media Australia pada 23 Desember 2010.
Dalam iklan-iklan kami menyatakan bahwa gelang Power Balance bisa meningkatkan kekuatan, keseimbangan dan fleksibilitas Anda.
Kami mengakui bahwa tidak ada bukti ilmiah yang kredibel yang mendukung klaim kami dan oleh karenanya kami terlibat dalam perbuatan yang menyesatkan dan melanggar pasal s52 dari Undang-Undang Praktik Perdagangan (Trade Practices Act) 1974.
Jika Anda merasa telah disesatkan oleh promosi ini kami meminta maaf tanpa syarat dan menawarkan pengembalian dana penuh.
Untuk mendapatkan pengembalian dana silakan kunjungi situs kami di www.powerbalance.com.au atau hubungi di nomor bebas pulsa 1800 733 436
Penawaran ini akan berlangsung sampai 30 Juni 2011. Agar syarat-syarat pengembalian dana terpenuhi bersama dengan ongkos kirimnya, Anda perlu mengembalikan produk asli Power Balance bersama dengan bukti pembelian (termasuk catatan kartu kredit, barcode dan penerimaan) dari penjual resmi di Australia.
Pemberitahuan koreksi ini telah dibayar oleh Power Balance Australia Pty Ltd sesuai janji kepada Australian Competition and Consumer Commission berdasarkan ayat 87B Trade Practices Act, 1974.
Saya sendiri tidak begitu kaget, kecuali kaget kenapa banyak orang yang baru ngeh tentang itu. Kenapa mereka begitu percaya pada "gelang karet" itu dan kenapa tidak dari dulu dilakukan penelitian yang kredibel suntuk meneliti kebenaran gelang ini.

Saya pribadi tidak percaya dengan hal-hal seperti ini, tapi saya lihat begitu banyak anak muda sekarang yang menggunakan gelang tersebut, entah memang sadar akan khasiatnya meski hanya sugesti atau sekedar biar bisa dibilang anak keren, gaul, dan mengikuti tingkah laku fashion para olahragawan internasional yang saya lihat juga menggunakan gelang dengan bentuk yang sama.

Gelang power balance adalah sebuah gelang dengan warna-warni trendi yang di”klaim” oleh pembuatnya mampu untuk: memperbaiki keseimbangan, meningkatkan flexibilitas, dan meningkatkan kekuatan inti tubuh. Dalam situsnya www.powerbalance.com, dijelaskan Power Balance adalah sebuah frekuensi lemah dan data biologis yang terprogram ke dalam media holografis (hologram). Nah Teknologi hologram ini di desain untuk beresonansi dengan medan biologis tubuh, energi dalam atau chi sehingga meningkatkan efisiensi sistem elektronik, kimia, dan organik tubuh anda. Produk ini didesain dan dibuat untuk meningkatkan, koordinasi, kekuatan, kelenturan dan daya tahan. Untuk penggunaan sehari hari  power balance juga terbukti meningkatkan kualitas tidur anda, selain juga meningkatkan imunitas mengurangi stress, sakit kekakuan, maupun mabuk di dalam perjalanan. Cara kerjanya seperti cara kerja dari garpu tala yang beresonasi dengan tubuh. Dengan menyelaraskan medan biologis, chi dalam diri anda menjadi terhamonisasi. Stress keseharian dan aktivitas fisik menyebabkan medan biologis menjadi tidak selaras. PowerBalance membalikan proses ini memberikan efisiensi harmoni dan keseimbangan. (detik.com).

Menurut saya teori diatas adalah omong kosong belaka. Saya sebenarnya sudah lama ingin membahas masalah ini. tetepi baru sekarang saya punya momen yang tepat untuk menjelaskan semuanya, yaitu sejak kapan hologram yang konon ada hologram yang mampu beresonansi dengan tubuh sehingga menghasilkan keseimbangan, Sejak kapan hologram ajaib itu bisa mengontrol tubuh kita?? Kita pakai akal sehat, bagaimana elektromagnetik bisa bekerja mempengaruhi tubuh. Padahal tubuh kita ada bioelektrik, kemudian ada listrik dari luar terpapar ke badan. Apa itu justru tidak mengganggu? Tapi tentu harus ada bukti ilmiah, bagaimana yang katanya gelombang elektromagnetik dari luar itu bisa menyelesaikan penyakit syaraf.  Kenapa konsumen begitu mudah percaya kepada iklan palsu itu. Kalaupun gelang berbahan silikon tersebut bisa menimbulkan efek Hal itu hanyalah efek plasebo, jadi kalau merasa yakin, air putih pun bisa menjadi obat.

Di beberapa blog dijelaskan bahwa rahasia gelang Power Balance adalah pada lambang/logo yang tersemat di hologram. Dikatakan bahwa gambar-gambar seperti dibawah ini sebagai perlambangan matahari dan menurut dia juga lambang ini sebagai universal symbol of unity. Dan ini semua adalah hoax belaka.

Sangat lucu bukan, pemikiran masyarakat kita digiring untuk mempercayai sesuatu yang tidak bisa diterima nalar, barang yang harganya mencapai kisaran Rp 200.000-Rp 450.000 untuk yang orisinil, diklaim dapat membawa manfaat tertentu bagi kesehatan kita.

Ini bukti bahwa pemahaman masyarakat tentang kesehatan masih rendah, dan juga bukti bahwa kesehatan tidak bisa dibeli dengan barang yang harganya hampir setengah juta. Kalau mau sehat ya terapkan pola hidup sehat. Jangan kalahkan nalar anda dengan barang murahan yang tidak dapat memberikan kepastian. Jangan  LEBAY hanya sekedar ikut tren bahwa gelang itu juga dipakai oleh atlet terkenal, kalau belum ada buktinya (Ingat!, semuanya tentu harus ada bukti ilmiah. Dalam dunia medis obat itu dikatakan berkhasiat kalau dia terbukti secara ilmiah dan aman) kalau seperti ini kan jadi Korban Tren. Dan terakhir menurut saya, hanya orang-orang lebay yang mau menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang lebay, seperti gelang bernama lebay ini. 

Gunakanlah selalu nalar dan akal sehat anda bila tidak mau jadi korban tren!
Baca Selanjutnya...