22 Oktober 2009

Ketika Rasa Ini Harus Berakhir...

Bila rasa ini harus berakhir
Aku ingin berakhir dengan baik
Karena kita mengawalinya dengan cara yang baik pula
Bila memang tak ada lagi cinta itu
Biarkan kucari cinta yang lain

Walau hati terasa tak rela melepasmu pergi
Kurasa inilah jalan terbaik untuk kita
Menemukan jati diri dan sosok sejati
Kulepas tanganmu kasih...

Air mata mengiringi ini semua
Semoga aku selalu mengingatnya

Bahwa cinta pernah hadir di hatiku
Bahwa cinta pernah bertahta di dalam jiwaku
Bahwa cinta pernah membawa bahagia untukku
Bahwa cinta pernah membawa airmata untukku
Bahwa cinta pernah memberi arti bagi diriku
Bahwa cinta pernah begitu kucintai dan kusayangi
Bahwa cinta pernah menjadi impian terindah dalam hidupku...

sumber: www.heartnsouls.com
Baca Selanjutnya...

Jika Kita Mencintai Seseorang

Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo’akannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta....

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba.

Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya.

Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.

Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya.

Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU.

Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan didalamnya dan kemungkinan apa yang kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya.

Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa.

Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta kedalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan.
Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.

Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemericing.

Cinta adalah keabadian dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dimiliki.
Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya cinta.

Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya.

Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir.

sumber: tripwow.tripadvisor.com
Baca Selanjutnya...

19 Oktober 2009

Ala' Hani, Si Bocah Surga

Dia masih bocah, usianya belum genap 14 tahun. Tapi keganasan Yahudi telah menghantarkan jiwanya menemui Rabbnya. Bacah yang selalu mengusung cita-cita tanah airnya ini dibunuh dengan darah dingin oleh pemukim Yahudi. Dia adalah Ala’ Hani.

Tidak seperti biasanya, hari itu Ala’ bangun tidur pagi-pagi sekali. Beberapa saat kemudian dia menemui ibunya dan menciumnya. Kemudian dengan agak tergesa-gesa dia ganti pakaian. Sebelum keluar rumah, dia minta ibunya untuk mendoakannya dan menjaga adik-adiknya yang masih kecil. Dia juga minta kepada ibunya agar menyampaikan salam kepada sang ayah yang telah mendahuluinya pergi berangkat kerja pagi-pagi.

Selepas dzuhur, kerumunan massa telah berkumul di depan rumah keluarganya di desa Bitin sebelah timur kota Ramallah. Mereka memberitahu ibu Ala’ bahwa anaknya terluka dalam aksi demo yang memprotes pembangunan tembok pemisah rasial yang dibangun Israel di atas tanah warga Palestina di kawasan tersebut. Namun diluar dugaan, sang ibu justru menjawab, “Ala’ tidak terluka, saya yakin dia telah gugur syahid…”

Hari itu, setelah keluar dari pintu sekolah di mana dia belajar, Ala’ bertemu dengan sekelompok pemuda Palestina di antaranya mereka ada teman-teman sekolahnya. Mereka bertolak ikut demonstrasi menentang pembangunan tembok pemisah rasial yang menggusur tanah desa mereka, tidak terkecuali tanah keluarga Hani, yang telah diduduki penjajah Zionis Israel secara total.

Sejak kecil, menurut anak pamannya, Ala’ yang duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama, ini sering ikut berbagai kegiatan nasonal di kotanya. Dia memiliki semangat revolusi yang tinggi. Memiliki kepribadian yang kuat dan pemberani. Sampai-sampai seorang gugur yang hadir dalam ta’ziah menyampaikan sambutan, sungguh Ala’ lebih tua dari usia yang sebenarnya. Dia bisa memikirkan berbagai persoalan yang tidak pernah terpikirkan oleh orang dewasa sekalipun.

Khaled, salah seorang teman dan sepupu Ala’ mengungkapkan kata-kata yang mungkin sulit untuk dipercaya. Khaled mengatakan, “Tak seorang pun dari keluarga yang percaya bahwa kami tidak akan melihat Ala’ sekali lagi. Dia adalah bocah yang dicintai oleh semua keluarga. Sekiranya tidak demikian, pastilah dia tidak mendapatkan syahadah (mati syahid)…Dia kini telah di syurga dan Allah akan meneguhkan kesabaran kami serta mengantikannya dengan yang lebih baik, InsyaAllah.”

Kisah kesyahidan Ala’ bemula dari aksi demo hari itu. Menurut Khaled, saat tengah berlangsung aksi demo secara damai untuk menentang pendirian tembok pemisah rasial Israel, kewat seorang pemukim Yahudi dengan mengendarai mobil dan langsung melancarkan serangan tembakan secara tiba-tiba kepada para demonstran.

Akibat aksi brutal teroris Yahudi ini, seorang perserta demo bernama Ahmad terluka. Melihat hal itu, Ala’ langsung menolong rekannya itu. Namun tiba-tiba teroris Yahudi tadi kembali melancarkan serangan tembakan secara sengaja dan mengenai Ala’ yang syahid seketika itu juga, karena timah panas mengenai bagian tubuh yang mematikan. “Saya tidak tahu, bahaya apa yang bisa diciptakan oleh bocah semacam Ala’ terhadap keselamatan teroris Yahudi yang melengkapi dirinya dengan senjata pembunuh modern sementara dia sendiri di dalam mobil?!!”

Ala’ tinggal dalam keluarga yang terdiri dari 4 orang anak dan dua orang tua. Dia sendiri adalah anak tertua. Khaled mengatakan, “Setelah ditinggal Ala’, keluarganya hidup dalam Susana susah, ibunya mengalami shack dan tidak bisa berbicara dengan siapapun.”

Mengenai kalimat terakhir yang diucapkan putranya, Ummu Ala’ menuturkan bahwa setelah memakai pakain baru dan bersiap-siap, berbeda dengan biasanya, kemudian menciumnya. Saat itu Ummu Ala’ sempat bertanya kepada putranya, “Kenapa engkau melakukan itu? Ala’ menjawab, “Semua orang harus mencium ibunya di pagi hari, dan harus bersyukur kepada Allah kerena telah diberi seorang ibu…” Setelah itu, ungkap Ummu Ala’, putranya berpamitan pergi ke sekolah dan minta didoakan untuknya.

Impian terbesar bagi Ala’ adalah bagaimana membebaskan tanahnya yang dirampas pasukan penjajah Zionis Israel untuk mendirikan tembok pemisah rasial. Khaled mengatakan, “Dia selalu memimpikan tanahnya kemabli. Pada suatu kesempatan, kala itu musim petik buah zaitun, pagi-pagi dia berkata kepada ibunya dengan keras, kita dilarang punya zaitun sebagaimana yang dimiliki semua makhluk dan manusia. Alangkah buruknya selama saya masih hidup kondisinya seperti ini.”

Untuk itulah, setiap ada kesempatan demonstrasi yang dilakukan secara berkala di kotanya, Ala’ tidak pernah melewatkan kesempatan itu, guna memprotes pembangunan tembok pemisah rasial yang melibas lebih dari sepertiga tanah pertanian di desanya, Bitin, termasuk tanah keluarganya sendiri.

Akibat aktivitas pembangunan tembok pemisah rasial di timur kota Ramallah, Tepi Barat, ini sejumlah rumah warga terisolasi dari kota. Para pendudukanya dilarang mengunjungi kerabat mereka yang jaraknya beberapa meter saja, itu karena adanya tembok yang memisahkan bagian-bagian kota secara total.

Menurut Khaled, hal yang sangat menyakitkan bagi Ala’ adalah manakala dia tidak bisa mengunjungi sepupunya yang terisolasi di balik tembok rasial ini, yang belakangan ini hidup dalam tekanan yang luar biasa karena kondisi umum yang ada saat itu. Ala’ adalah seorang bocah yang memiliki empati tinggi dan tidak bisa menahan kedzaliman, meski itu dari orang-orang terdekatnya, terlebih bila kedzaliman itu dari orang-orang yang melibas tanah dan impiannya??
Baca Selanjutnya...

13 Oktober 2009

Terima Kasih Malaysia

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Indonesia dan Malaysia memanas. Hubungan dua negara Islam bertetangga ini yang harusnya akur berkerjasama, malah memanas. Hal ini karena sikap Malaysia yang dengan seenaknya mengakui Pulau-pulau kecil seperti pulau Jemur, bahkan setidaknya ada dua pulau NKRI yang telah direbut oleh Malaysia yaitu pulau Ligitan dan Sipadan. Mungkin masih banyak pulau lain yang telah diklaim malaysia tetapi kita tidak menyadarinya.

Mengenai kebudayaan  setidaknya lebih dari lima produk budaya anak negeri yang diklaim Malaysia. Di antaranya adalah Reog Ponorogo asal Jawa Timur, Angklung asal Jawa Barat, Batik asal Pekalongan dan Tari Pendet dari Bali serta beberapa produk budaya lainnya. Dan Sebenarnya masih banyak masalah-masalah yang menyebabkan hubungan Indonesia dan Malaysia menjadi memburuk seperti melecehkan Lagu Kebangsaan kita “ Indonesia Raya” degan kata-kata yang tidak pantas dan menyebut bangsa Indonesia dengan sebutan Indon (ejekan kepada negeri kita) kemuadian ada yang membalasnya dengan sebutan Malingsia yang disematkan pada negri jiran tersebut karena “kebiasaannya” mengakui kesenian milik negara lain.  Walaupun demikian saya yakin itu semua ini bukan  berasal dari negara tetangga kita ini,  ini berasal dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang menginginkan perpecahan dianatara kedua negara Islam ini, Indonesia dan Malaysia. Kecurigaanku tersebut bertamabah ketika membaca sebuah milis di internet yang menyebutkan asal-usul Lagu “Indonesia Raya” yang dilecehkan berasal dari negeri kafir, Amerika Serikat!. Semoga saja dua negeri ini tetap berpikiran positif, jangan mudah terpancing oleh otak-otak berkarat kaum Yahudi dan Amerika. Semoga...

Kasus dengan Malaysia ini seperti menjadi  tamparan keras buat para pemimpin bangsa ini agar tidak terlalu lama bergaya mencari simpati rakyat artinya semua pihak berkewajiban menjaga kesenian daerah kita, aku ambil contoh wayang kulit, angklung dan semua kesenian daerah hampir dikatakan sudah sangat jarang tampil di televisi swasta kecuali TVRI. Jadi secara tidak langsung sikap masa bodoh dan tidak perduli diri kita terhadap jenis kesenian daerah adalah ikut andil dalam pencaplokan kesenian kita oleh negara lain.

Aku melihat realita dibalik ini semua, dimana Bangsa Indonesia, tidak tua, tidak muda, semuanya begitu bersemangat mengobarkan nasionalismenya ketika ada sebuah kebudayaan, misalnya Batik, yang diklaim Malaysia bahkan ada yang sampai siap berperang demi Batik. “Kobaran api” nasionalisme yang begitu terang tergambar tersebut adalah suatu hal yang sangat jarang ditemukan sebelumnya, Siap mati demi batik,  demi wayang kulit, sungguh ironis memang disaat seperti sekarang kebudayaan kita sering dipandang sebelah mata, malah ada yang tidak mengenal wayang  tetapi disaat  Malaysia mengklaimnya nasionalisme kita begitu berkobar membelanya dan akhirnya kitapun menjadi “kenal” dengan kekayaan alam dan kebudayaan kita. Seperti  ketika Malaysia merebut pulau Ligitan dan Sipadan, sebelumnya mungkin hampir 99% rakyat Indonesia tidak mengenalnya atau bahkan Pemerntah pun mengkin tidak menganggap sebagai wilayahnya, bahkan penduduk pulau itu mungkin tidak pernah merasakan "tangan" Pemerintah, tetapi setelah semua terebut Malaysia, nasionalisme kita berkobar-kobar demi mempertahankannya walau semuanya gagal. Tetapi kita akhirnya ini bisa menyadarkan kepada kita bahwa kita mempunyai dua pulau tersebut sehingga kita menjadi tahu dan kenal akan kekayaan alam kita sebagai negara kepulauan.

Dan akupun kemudian berpikir, jangan-jangan untuk membangkitkan rasa nasionalisme yang tinggi atau agar nasionalisme kita tidak tidur terlalu lelap, Malaysia perlu “mengguggah” Indonesia lagi dengan klaim-klaim serupa.

Iya, jangan-jangan kita membutuhkan Malaysia untuk menumbuhkan dan membangkitkan nasionalisme itu..

Jangan-jangan kita membutuhkan Malaysia agar kita lebih mengurus dan melestarikan kekayaan seni budaya kita..

Jangan-jangan kita membutuhkan Malaysia agar warga negara Indonesia yang tinggal di pulau-pulau terluar menjadi diurus dan diperhatikan serta tidak  ditelantarkan agar tidak lepas seperti Sipadan-Ligitan..

Jangan-jangan kita membutuhkan Malaysia agar peralatan tempur maritim kita menjadi lebih baik atas kasus Ambalat..

Jangan-jangan kita membutuhkan Malaysia agar lebih baik mengurus sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia..

Jangan-jangan kita membutuhkan Malaysia agar jutaan TKI disana terjamin kesejahteraannya karena Indonesia  tak mampu menyejahterakan mereka..

Jangan-jangan kita membutuhkan Malaysia yang telah menggratiskan biaya kuliah bagi mahasiswanya agar  pemerintah Indonesia juga menggratiskan biaya pendidikan bagi mahasiswanya..

Jangan-jangan kita membutuhkan Malaysia...

Dibalik semua pro dan kontra diantara hubungan Indonesia dan Malaysia ini, aku lebih suka berterima kasih pada Malaysia, negeri yang dianggap maling, tapi mampu menyadarkan kita tentang suatu hal yang amat sangat berharga bernama Nasionalisme. Tidak apa kita berkorban pulau tetapi nasionalisme kita menjadi bangkit melesat, berkobar. Terima kasih Malaysia telah menyadarkan Indonesia dari tidur panjangnya.

Terima kasih Malaysia...
Baca Selanjutnya...

12 Oktober 2009

In Loving Memory

Thanks For All You've Done
I've Missed You For So Long
I Can't Believe You're Gone
You Still Live In Me
I Feel You In The Wind
You Guide Me Constantly

I've Never Knew What It Was To Be Alone, No
Cause You Were Always There For Me
You Were Always Waiting
And Ill Come Home And I Miss Your Face So
Smiling Down On Me
I Close My Eyes To See

And I Know, You're A Part Of Me
And It's Your Song That Sets Me Free
I Sing It While I Feel I Can't Hold On
I Sing Tonight Cause It Comforts Me

I Carry The Things That Remind Me Of You
In Loving Memory Of
The One That Was So True
Your Were As Kind As You Could Be
And Even Though You're Gone
You Still Mean The World To Me

I've Never Knew What It Was To Be Alone, No
Cause You Were Always There For Me
You Were Always Waiting
But Now I Come Home And It's Not The Same, No
It Feels Empty And Alone
I Can't Believe You're Gone
And I Know, You're A Part Of Me
And It's Your Song That Sets Me Free
I Sing It While I Feel I Can't Hold On
I Sing Tonight Cause It Comforts Me

I'm Glad He Set You Free From Sorrow
I'll Still Love You More Tomorrow
And You Will Be Here With Me Still
And What You Did You Did With Feeling
And You Always Found The Meaning
And You Always Will...
And You Always Will...
And You Always Will...

And I Know, You're A Part Of Me
And It's Your Song That Sets Me Free
I Sing It While I Feel I Can't Hold On
I Sing Tonight Cause It Comforts Me
In Memoriam My Father, Muhammad Nagib Mulachella, 2 Oktober 2002 – 2 Oktober 2009
“In Loving Memory” by Alter Bridge
Baca Selanjutnya...